Insights

BAGAIMANA PEMBELANJAAN RUTIN MEMPENGARUHI PENGELUARAN RUMAH TANGGA
Article

BAGAIMANA PEMBELANJAAN RUTIN MEMPENGARUHI PENGELUARAN RUMAH TANGGA

Pasar Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang stagnan selama dua tahun terakhir. Stagnasi ini mencerminkan pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga yang stabil di angka 5,06%, dimana komponen ini sendiri menyumbang 56%[1] PDB Indonesia pada triwulan III 2017. Investasi dan Pengeluaran Pemerintah sebagai komponen terbesar kedua dan ketiga dari PDB Indonesia sebenarnya telah dalam moda pemulihan, namun keduanya tidak mampu mendorong pertumbuhan PDB secara keseluruhan.

Melihat lebih dekat pada rumah tangga Indonesia, mereka sangat bergantung pada pembelanjaan yang tidak terencana (unplanned purchase), artinya mereka berbelanja untuk persiapan makan hari ini atau untuk dapat dikonsumsi segera. Di sisi lain, pembelanjaan yang terencana (planned purchase) tidak begitu populer di Indonesia, dimana hanya menyumbang 18% dari total frekuensi belanja rumah tangga dalam setahun. Namun demikian, meski frekuensi pembelanjaan terencana tidak sebanyak pembelanjaan yang tidak terencana, hal itu relatif lebih penting dari segi nilai dan volume unit. Dari sisi nilai, pembelanjaan terencana menghasilkan 34% dari total nilai belanja rumah tangga untuk FMCG, sedangkan dari sisi unit volume, menghasilkan  26% dari total volume unit.

Di triwulan III 2017, pembelanjaan terencana terus kehilangan relevansinya di rumah tangga. Frekuensi pembelanjaan terencana bahkan menurun sebesar 7%, sementara pembelanjaan tidak terencana tetap stabil di angka 1%. Lalu apa yang harus dikhawatirkan dari hilangnya relevansi pembelanjaan terencana ini? Pertama-tama, pertumbuhan nilai belanja rumah tangga menjadi lebih lambat daripada yang diharapkan dari pembelanjaan tidak terencana. Pembelanjaan tidak terencana sebenarnya mampu memberikan pertumbuhan sebesar 9%, namun karena nilai dari pembelanjaan terencana hanya menunjukan hasil yang stabil, pertumbuhan nilai konsumsi rumah tangga secara total menjadi terseret ke bawah hingga hanya mencapai angka 5%. Hal ini mungkin terjadi karena nilai pengeluaran pada saat pembelanjaan tidak terencana 41% lebih rendah daripada nilai yang dikeluarkan saat pembelanjaan terencana.

Kedua, pertumbuhan volume unit juga tumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan. Serupa dengan pertumbuhan nilai, pembelanjaan tidak terencana sebenarnya bertumbuh sebesar 6%, namun secara total, pertumbuhan volume unit hanya tumbuh sebesar 3% karena unit yang dibeli saat pembelanjaan terencana turun.

Bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan produk-produk konsumsi?

Hilangnya relevansi pembelanjaan terencana ini bahkan menjadi lebih mengancam karena rumah tangga cenderung hanya mengambil 4 kategori produk saja saat pembelanjaan tidak terencana,  padahal sebenarnya mereka bisa mendapatkan hingga 7 kategori saat pembelanjaan terencana. Dan lagi, ini terjadi di semua status ekonomi sosial  baik Atas, Menengah dan Bawah. Kategori yang paling banyak terkena dampak adalah kategori-kategori yang bukan basic, seperti Pharmaceutical, RTD (Ready-to-Drink) Beverages dan Non-RTD Beverages, dimana ketiga kategori ini bukanlah kategori-kategori basic yang memang selayaknya dibeli pada saat pembelanjaan terencana.

Lalu bagaimana dengan kategori-kategori basic yang seharusnya lebih banyak dibeli pada saat pembelanjaan terencana? Kategori-kategori basic, seperti cooking aid (bumbu masak, minyak goreng, tepung bumbu, dsj.) dan homecare (produk perawatan rumah) malah semakin dibeli pada saat pembelanjaan tidak terencana.  Apa dampaknya bagi manufaktur? Kita ambil contoh dari kategori minyak goreng. Pembelian terhadap kategori minyak goreng semakin banyak terjadi saat pembelanjaan tidak terencana, sedangkan saat pembelian terencana semakin turun. Dan karena makin banyaknya pembelanjaan saat tidak terencana, makin besar kesempatan bagi rumah tangga untuk mengambil lebih banyak merek, dimana di kuartal III 2016 hanya ada 20% rumah tangga yang membeli enam merek minyak goreng, tapi saat ini jumlah rumah tangga yang membeli enam merek menjadi 60%.

Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi antar merek menjadi semakin berat seiring dengan perubahan tren pembelanjaan tidak terencana yang terjadi di rumah tangga. Jadi, sudah siapkah merek Anda bersaing untuk tetap menjadi pilihan rumah tangga Indonesia?

Read English Version

Info lebih detail, email ke: Nielsen.Indonesia@nielsen.com

Tentang Nielsen Home Panel

Nielsen Home Panel melakukan survei atas 10.500 sampel rumah tangga di Indonesia, dengan komposisi 98% di perkotaan dan pedesaan. Survei dilakukan dengaan metode pencatatan perilaku belanja aktual dengan menggunakan metodologi catatan harian/jurnal yang mencakup setiap aktifitas belanja. Panel yang digunakan sebagai sampel merupakan panel yang berkesinambungan, yaitu mengukur panel yang sama secara terus menerus dengan tingkat retensi sebesar 97%.

Tentang Nielsen

Nielsen N.V. (NYSE: NLSN) adalah perusahaan global yang menyediakan pemahaman komprehensif pada apa yang konsumen Tonton (Watch) dan Beli (Buy). Segmen Watch menyediakan layanan pengukuran total khalayak  di seluruh perangkat di mana isi video, audio dan pesan dikonsumsi; bagi klien media dan agensi periklanan. Segmen Buy menyediakan pandangan global mengenai pengukuran kinerja industri ritel bagi para produsen dan peritel barang konsumsi. Dengan mengintegrasikan informasi dari segmen Watch dan Buy serta sumber data lainnya, Nielsen memberikan para kliennya pengukuran kelas dunia bagi kedua segmen tersebut serta analisa yang membantu meningkatkan kinerja. Nielsen, sebuah perusahaan S&P 500, beroperasi di lebih dari 100 negara meliputi lebih dari 90 persen populasi dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nielsen.com