Press Room

Ketika Lebih Sedikit Lebih Baik: Delapan dari Sepuluh Konsumen Indonesia Mengikuti Diet Khusus yang Menghilangkan Bahan-Bahan Tertentu, Menurut Nielsen

{“order”:3,”name”:”pubdate”,”attributes”:{“hidePublishDate”:”true”,”jcr:mixinTypes”:”[cq:LiveRelationship]”,”sling:resourceType”:”nielsenglobal/components/content/publishdate”},”children”:null}

Pesan untuk Jurnalis dan Editor:

  • Nielsen sangat menyarankan jurnalis dan editor untuk mencantumkan metodologi riset Nielsen dalam berita, bilamana merujuk data Nielsen sebagai sumber informasi.

  • Untuk menghindari ketidak-­‐tepatan dalam menggunakan referensi data Nielsen, silahkan menghubungi  kontak  Nielsen  diatas  untuk  klarifikasi informasi.

  • Nielsen memiliki hak jawab untuk ketidak-­‐tepatan penggunaan data Nielsen dalam pemberitaan.

Ketika Lebih Sedikit Lebih Baik: Delapan dari Sepuluh Konsumen Indonesia Mengikuti Diet Khusus yang Menghilangkan Bahan-Bahan Tertentu, Menurut Nielsen

64% konsumen mengatakan bersedia membayar lebih untuk makanan tanpa bahan tertentu.

Jakarta, August 30, 2016 – Konsumen Indonesia semakin memilih diet khusus yang sesuai dengan keinginan mereka untuk mengkonsumsi bahan-bahan organik, rendah lemak, rendah karbohidrat atau tidak mengkonsumsi bahan-bahan tertentu, berdasarkan sensitifitas atau alergi terhadap makanan/minuman, atau kepercayaan pribadi. 80% responden Nielsen’s new Global Health and Ingredient-Sentiment Survey mengatakan bahwa mereka menjalankan diet yang membatasi atau melarang mengkonsumsi makanan/minuman atau bahan-bahannya; dan hampir dua pertiga konsumen (64%) mengatakan mereka bersedia membayar lebih untuk makanan/minuman yang tidak mengandung bahan-bahan yang tidak diinginkan.

“Konsumen kini lebih sadar akan pola makan sehat; karena itu mereka ingin menerapkan pola makan yang dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan. Ini adalah peluang untuk produsen dan peritel makanan; produsen dapat membantu konsumen dengan menawarkan produk-produk yang diformulasikan dengan fokus pada sensitifitas terhadap makanan/minuman dan diet khusus lainnya. Sementara itu, peritel dapat membantu dengan cara menyediakan variasi produk-produk makanan/minuman yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan konsumen di toko mereka,” tutur Yudi Suryanata, Executive Director, Consumer Insights, Nielsen. “Namun demikian, kesehatan dan kebugaran bukan bidang yang dapat menggunakan hanya satu pendekatan. Produsen dan peritel perlu mengidentifikasi segmen-segmen yang berpotensi tinggi, bagaimana mendekati konsumen, dan kemudian menyesuaikan pesan dan produk mereka.”

Pendorong Utama untuk Tren Pola Makan Tersebut Adalah:

Meningkatnya sensitifitas terhadap makanan/minuman: Hampir setengah (48%) dari responden Indonesia mengatakan bahwa mereka atau anggota keluarga mereka memiliki alergi atau sensitive terhadap satu atau lebih makanan/minuman. Alergi terhadap kerang-kerangan adalah yang tertinggi, dilaporkan oleh 17% responden, disusul oleh telur (15%) dan ikan (13%).

Preferensi diet: Delapan dari 10 (80%) responden mengikuti diet khusus yang membatasi konsumsi makanan/minuman tertentu. Halal merupakan faktor yang paling banyak disebut oleh responden (50%). Responden juga mengurangi makanan/minuman yang tinggi lemak (37%), gula (30%) dan karbohidrat (22%).

Bahan-bahan makanan yang dihindari: Konsumen Indonesia pastinya tidak menyukai bahan-bahan tiruan. Lebih dari tujuh dari 10 (74%) konsumen mengatakan bahwa mereka menghindari pengawet buatan, diikuti oleh perasa buatan (72%) dan pewarna buatan (71%).

Secara global, alergi terhadap produk olahan susu atau laktosa dan kerang-kerangan merupakan yang terbanyak dilaporkan, masing-masing dilaporkan oleh 12% responden. Sekitar dua pertiga (64%) responden Nielsen Global Health and Ingredient-Sentiment Survey mengatakan mereka mengikuti diet yang membatasi atau melarang konsumsi beberapa makanan/minuman, tertinggi di Afrika/Timur Tengah (84%) dan Asia Pasifik (72%). Dua pertiga konsumen global (68%) mengatakan mereka bersedia membayar lebih untuk makanan/minuman yang tidak mengandung bahan-bahan yang tidak mereka inginkan. Tujuh puluh persen responden global mengatakan bahwa mereka membuat pilihan diet secara aktif untuk menghindari masalah-masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi atau hipertensi. Menurut WHO, penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan kanker diperkirakan menyebabkan 73% kematian secara global pada tahun 2020, meningkat dari perkiraan kasar sebesar 60% di 2001.

-tamat-

TENTANG METODOLOGI SURVEI GLOBAL NIELSEN

Temuan dalam survei ini adalah berdasarkan pada responden yang memiliki akses online di 63 negara Nielsen (kecuali dinyatakan lain). Meskipun metodologi survey online dapat mencapai skala yang sangat besar dan jangkauan global, metodologi ini hanya memberikan perspektif atas kebiasaan pengguna internet, bukan total populasi. Sebagai tambahan, respon survey ini adalah berdasarkan perilaku yang diklaim responden, bukan data yang diukur secara aktual. Perbedaan budaya dalam melaporkan sentimen sangat mungkin menjadi factor yang berpengaruh terhadap pandangan konsumen di semua Negara. Hasil yang dilaporkan tidak berupaya untuk mengontrol atau memperbaiki perbedaan-perbedaan tersebut. Dengan demikian, perlu berhati-hati ketika membandingkan seluruh negara dan wilayah, terutama saat melintasi batas-batas regional.

TENTANG NIELSEN

Nielsen N.V. (NYSE: NLSN) adalah perusahaan global yang menyediakan pemahaman komprehensif pada apa yang konsumen Tonton (Watch) dan Beli (Buy). Segmen Watch menyediakan layanan pengukuran total khalayak  di seluruh perangkat di mana isi video, audio dan pesan dikonsumsi; bagi klien media dan agensi periklanan. Segmen Buy menyediakan pandangan global mengenai pengukuran kinerja industri ritel bagi para produsen dan peritel barang konsumsi. Dengan mengintegrasikan informasi dari segmen Watch dan Buy serta sumber data lainnya, Nielsen memberikan para kliennya pengukuran kelas dunia bagi kedua segmen tersebut serta analisa yang membantu meningkatkan kinerja. Nielsen, sebuah perusahaan S&P 500, beroperasi di lebih dari 100 negara meliputi lebih dari 90 persen populasi dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nielsen.com .