Press Room

INDONESIA MASIH OPTIMIS DI KUARTAL KEEMPAT 2016

{“order”:3,”name”:”pubdate”,”attributes”:{“hidePublishDate”:”true”,”jcr:mixinTypes”:”[cq:LiveRelationship]”,”sling:resourceType”:”nielsenglobal/components/content/publishdate”},”children”:null}

Pesan untuk Jurnalis dan Editor:

• Nielsen sangat menyarankan jurnalis dan editor untuk mencantumkan secara singkat metodologi riset Nielsen dalam berita, bilamana merujuk data Nielsen sebagai sumber informasi.

• Untuk menghindari ketidak-­‐tepatan dalam menggunakan referensi data Nielsen, silahkan menghubungi  kontak  Nielsen  diatas  untuk  klarifikasi informasi.

• Nielsen memiliki hak jawab untuk ketidak-­‐tepatan penggunaan data Nielsen dalam pemberitaan.

INDONESIA  MASIH OPTIMIS DI KUARTAL KEEMPAT 2016

Kekhawatiran akan Keadaan Ekonomi Menurun dan Kekhawatiran akan Stabilitas Politik meningkat

Muncul Kekhawatiran akan Toleransi Antar Agama

Jakarta, 21 Februari 2017 – Indeks Keyakinan Konsumen Global di kuartal akhir 2016 meningkat tiga poin menjadi 101 dibandingkan dengan kuartal pertama di tahun tersebut. Sementara itu Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia tercatat turun dari 122 di kuartal ketiga tahun lalu menjadi 120 pada kuartal keempat.  Hasil temuan Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intention yang dirilis baru-baru ini menunjukkan bahwa meskipun  turun dua poin, Indonesia masih berada dalam urutan teratas 5 negara teroptimis di dunia setelah India (136), Filipina (132), dan Amerika Serikat (123); dan berada di atas Vietnam (112)

Turunnya Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia dipengaruhi oleh dua indikator yang mengalami penurunan yaitu (1)Optimisme mengenai Kondisi Keuangan Pribadi dalam 12 Bulan Mendatang  dengan skor 81 (turun tiga poin dibandingkan dengan kuartal sebelumnya) dan (2) Keinginan Berbelanja dalam 12 Bulan Mendatang dengan skor 59 (turun satu poin dari kuartal sebelumnya). Sementara itu Optimisme mengenai Prospek Lapangan Kerja dalam 12 Bulan Mendatang stabil di skor 68 sejak kuartal ketiga 2016.

Pada kuartal terakhir tahun lalu, persepsi konsumen Indonesia mengenai resesi ekonomi juga memburuk. Konsumen Indonesia yang berpendapat bahwa saat ini negara sedang berada dalam keadaan resesi ekonomi meningkat menjadi 54 persen dibanding kuartal sebelumnya yang hanya 47 persen.

Tampaknya persepsi tersebut berdampak pada cara konsumen membelanjakan dana cadangan mereka, dimana konsumen yang menggunakan dana cadangannya untuk menabung menjadi lebih sedikit. Jika di kuartal ketiga 2016 ada 77% konsumen Indonesia yang memilih menggunakan dana cadangannya untuk menabung, pada kuartal keempat jumlah ini menurun menjadi 71%.  Di sisi lain, konsumen yang menggunakan dana cadangan untuk berinvestasi di pasar saham atau reksa dana sedikit meningkat dari 28% di kuartal ketiga menjadi 30% di kuartal keempat tahun lalu.

Terkait penghematan biaya rumah tangga, pada kuartal ini konsumen online Indonesia yang memilih untuk Mengurangi Belanja Baju Baru meningkat menjadi 49 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 47 persen. Disusul oleh konsumen yang memilih Mengurangi Hiburan di Luar Rumah (46%), Menunda Mengganti Teknologi Baru (43%), Mengurangi Biaya Liburan (40%) dan Mengurangi Membeli Makanan Siap Antar (35%).

Pada kuartal keempat tahun 2016 ini, kekhawatiran konsumen Indonesia akan Kondisi Ekonomi turun menjadi 26% dibandingkan kuartal sebelumnya (31%). Untuk pertama kalinya Kekhawatiran akan Toleransi Antar Agama muncul pada urutan lima teratas hal-hal yang menjadi kekhawatiran utama konsumen. Sebanyak 25% konsumen mengatakan bahwa mereka khawatir akan kondisi Toleransi Antar Agama pada kuartal keempat 2016; sama banyaknya dengan konsumen yang menyatakan Khawatir akan kondisi Stabilitas Politik (25%), yang meningkat dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu yang hanya sebesar 13%.

“Jelang Pilkada, adanya kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur DKI Ahok yang kemudian diikuti dengan aksi 411 berdampak cukup signifikan pada keyakinan konsumen Indonesia pada kuartal terakhir tahun lalu, sehingga memunculkan kekhawatiran akan kondisi Toleransi Antar Agama dan Stabilitas Politik.” ujar Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia, “Pilkada DKI belum selesai, dan kita bersama-sama harus menjaga kondisi bermasyarakat dengan menyampaikan dan melakukan hal-hal positif dalam menjaga kebangsaan dan meningkatkan rasa aman dan keyakinan masyarakat.”

Di tingkat global, keyakinan konsumen Amerika Serikat meningkat tinggi, yaitu sebesar 17 poin dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dengan indeks menjadi 123.  Hal ini tampaknya didorong oleh terus bertumbuhnya ekonomi dan lapangan pekerjaan di AS; serta selesainya putaran pemilihan presiden di periode tersebut. Di wilayah Eropa, selama tahun 2016 Indeks Keyakinan Konsumen meningkat di 26 dari 34 negara. Sebanyak 10 dari 14 negara di wilayah Asia Pasifik juga menutup tahun 2016 dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada saat awal tahun Di Asia Pasifik, India, Filipina dan Indonesia masih berada di peringkat teratas negara paling optimistis. Brazilia menjadi negara utama yang mendorong meningkatnya optimisme konsumen di wilayah Amerika Latin dengan peningkatan 11 poin selama tahun 2016.  Wilayah Afrika dan Timur Tengah justru mengalami penurunan Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 5 poin sepanjang tahun 2016. Ini didorong olehMesir dan Arab Saudi yang penurunan angka indeksnya mencapai dua digit .

Tentang Survei Global Nielsen

Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions dilaksanakan pada 31 Oktober – 18 November 2016 dan mensurvei lebih dari 30.000 konsumen online di 63 negara. Meskipun metode survei online dapat menjangkau skala yang besar secara global, survei ini hanya memberikan perspektif dari kebiasaan pengguna internet, bukan populasi total.   Di negara-negara berkembang dimana penetrasi online masih bertumbuh, populasi pengguna internet sangat mungkin berusia lebih muda dan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum di negara tersebut. Tiga negara Sub-Sahara Afrika (Ghana, Kenya dan Nigeria) menggunakan metodologi survei melalui perangkat mobile dan tidak diikutsertakan dalam data pada laporan ini. Sebagai tambahan, hasil survei ini adalah berdasarkan perilaku yang diklaim oleh responden, bukan data yang diukur secara aktual. Perbedaan budaya dapat mempengaruhi hasil pengukuran mengenai pandangan responden terhadap keadaan ekonomi di masing-masing negara. Hasil yang dilaporkan tidak ditujukan untuk mengontrol atau mengkoreksi perbedaan-perbedaan tersebut, karena itu butuh perhatian khusus pada saat membuat perbandingan antar negara dan wilayah, khususnya pada saat melewati batas-batas wilayah regional. Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions telah diselenggarakan sejak tahun 2005.

Tentang Nielsen

Nielsen N.V. (NYSE: NLSN) adalah perusahaan global yang menyediakan pemahaman komprehensif pada apa yang konsumen Tonton (Watch) dan Beli (Buy). Segmen Watch menyediakan layanan pengukuran total khalayak  di seluruh perangkat di mana isi video, audio dan pesan dikonsumsi; bagi klien media dan agensi periklanan. Segmen Buy menyediakan pandangan global mengenai pengukuran kinerja industri ritel bagi para produsen dan peritel barang konsumsi. Dengan mengintegrasikan informasi dari segmen Watch dan Buy serta sumber data lainnya, Nielsen memberikan para kliennya pengukuran kelas dunia bagi kedua segmen tersebut serta analisa yang membantu meningkatkan kinerja. Nielsen, sebuah perusahaan S&P 500, beroperasi di lebih dari 100 negara meliputi lebih dari 90 persen populasi dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nielsen.com.