Press Room

RAMADHAN, PENDORONG PERUBAHAN KONSUMSI DAN BELANJA IKLAN

{“order”:3,”name”:”pubdate”,”attributes”:{“hidePublishDate”:”true”,”jcr:mixinTypes”:”[cq:LiveRelationship]”,”sling:resourceType”:”nielsenglobal/components/content/publishdate”},”children”:null}

Pesan untuk Jurnalis dan Editor:

●    Nielsen sangat menyarankan jurnalis dan editor untuk mencantumkan secara singkat metodologi riset Nielsen dalam berita, bilamana merujuk data Nielsen sebagai sumber informasi.

●    Untuk menghindari ketidak­‐tepatan dalam menggunakan referensi data Nielsen, silahkan menghubungi  kontak  Nielsen  diatas  untuk  klarifikasi informasi.

●    Nielsen memiliki hak jawab untuk ketidak­‐tepatan penggunaan data Nielsen dalam pemberitaan.

RAMADHAN, PENDORONG PERUBAHAN KONSUMSIDAN BELANJA IKLAN

Konsumsi Konten Religi TV dan Radio Meningkat

Muncul Kecenderungan Mengganti Perangkat Smartphone dan Mobil

Jakarta, 6 Juni 2018  – Bulan Ramadhan memberi dampak perubahan pada pola konsumsi konsumen serta strategi pemilik brand.  Jumlah penonton TV di 11 kota besar meningkat dari rata-rata 5,9 juta per hari menjadi 7 juta per hari, dengan dominasi peningkatan jumlah penonton di waktu sahur. Konsumsi media TV meningkat seiring dengan meningkatnya durasi menonton, yang biasanya rata-rata menonton TV hanya 4 jam 53 menit, di bulan Ramadhan meningkat menjadi 5 jam 19 menit.

Bulan Ramadhan juga memunculkan kecenderungan untuk menonton TV bersama keluarga dengan adanya peningkatan co-viewing untuk anak usia 5-14 tahun yang ditemani oleh penonton usia 20 tahun ke atas meningkat sebesar 31%. Jumlah jam tayang tipe program keagamaan (religi) meningkat, namun tipe program series masih menjadi program yang paling banyak dikonsumsi selama bulan Ramadhan.

Tak hanya televisi yang mengalami peningkatan konsumsi, selama bulan Ramadhan konsumen yang mendengarkan radio juga meningkat 13 persen, menjelajahi internet meningkat 9 persen dan yang menonton bioskop meningkat 17 persen. Menariknya, peningkatan jumlah pendengar radio yang paling besar ditemui di dua kota yang menjadi tempat terselenggaranya Asian Games ke-18 yaitu, Jakarta (+10%) dan Palembang (+23%). Di kedua kota ini pun terjadi perubahan kebiasaan dalam mendengarkan radio, yaitu pendengar lebih banyak mendengarkan radio melalui radio tape selama bulan Ramadhan sedangkan di periode sebelumnya lebih banyak menggunakan handphone.

“Perubahan kebiasaan, seperti peningkatan kepemirsaan TV, peningkatan jumlah TV co-viewing dan berubahnya medium yang digunakan untuk mendengarkan radio dari personal device (HP) menjadi collective device (radio tape), mengindikasikan bahwa bulan Ramadhan membuat orang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.” Kata Hellen Katherina, Executive Director Media Business, Nielsen Indonesia

Berdasarkan rata-rata 11 kota yang disurvei Nielsen, pada bulan Ramadhan para pendengar radio yang lebih memilih mendengarkan  konten religi meningkat 11 persen. Peningkatan tertinggi berada di Yogyakarta (+38%), Jakarta (+31%), Makassar (+27%) dan Palembang (+25%).

Mengakses internet telah menjadi gaya hidup di era digital saat ini. Menurut Nielsen Consumer & Media View, konsumen menghabiskan waktu 3 jam 17 menit untuk mengakses internet, peningkatan penggunaan internet yang paling tinggi ditemukan setelah buka puasa (pukul 19.00-21.59) sebesar 12%.  Sementara yang paling banyak diakses adalah video, berita lokal maupun internasional dan belanja online.

Terkait perilaku belanja online pada bulan Ramadhan, konsumen lebih banyak membeli produk dari kategori makanan dan minuman, perabot rumah tangga, pakaian dan produk yang berhubungan dengan traveling menjelang Hari Raya.

Keinginan untuk tampil beda di Hari Raya dan adanya dana THR mendorong keinginan konsumen untuk membeli perangkat smartphone baru atau bahkan melakukan upgrade kendaraan. Selama bulan Ramadhan, ditemukan adanya peningkatan kepemilikan smartphone sebesar 7% dan juga rencana untuk membeli smartphone mengalami peningkatan 4 kali lipat. Selain itu, kepemilikan mobil meningkat 21 persen dan rencana untuk membeli mobil juga meningkat 3.5 kali lipat.

Kegunaan produk-produk seperti penyegar mulut, susu kental manis, teh celup, kopi instan dan mi instan di bulan Ramadhan menjadikan produk-produk yang termasuk dalam kategori-kategori tersebut muncul di setiap daftar belanja konsumen.

Sementara itu, data Nielsen Advertising Intellegence (Ad Intel) menunjukkan, perubahan pola konsumsi dan perilaku dari konsumen selama bulan Ramadhan 2018, rupanya membuat para pengiklan dari kategori produk tertentu untuk menangkap peluang tersebut dengan meningkatkan aktivitas beriklannya di media.

Berdasarkan kategori produk yang aktivitasnya meningkat pesat pada jeda iklan (Commercial Break) selama minggu pertama Ramadhan diantaranya adalah Layanan Online dengan belanja iklan sebesar Rp223 Miliar (meningkat 76% dibandingkan dengan periode sebelum Ramadhan). Kategori lain yang mengalami peningkatan adalah kategori Jus dan Sirup dengan total belanja iklan Rp101 Miliar, meningkat sangat tinggi sebesar 447%. Kategori Minuman Siap Minum menjadi kategori yang meningkat juga dengan total belanja iklan Rp70 Miliar dan tumbuh 110%. Kategori Material Bangunan juga meningkat pesat dengan total belanja iklan Rp66 Miliar dan pertumbuhan mencapai 114%.

Untuk penempatan iklan dalam program (In-Program Ads), jumlah tayangan iklan dari kategori Kopi dan Teh meningkat sebesar 29%, kategori Komunikasi meningkat sebesar 77%, Tekstil & Garmen (didominasi oleh produk Sarung) meningkat sebesar 294%. Kategori Material Bangunan juga mengalami peningkatan sebesar 294% dan Kategori Produk Obat Antasida mengalami peningkatan hingga 1563%.

Jika melihat iklan radio di periode Ramadhan 2017, belanja iklan yang terbesar datang dari industri Layanan Online sebesar 18.8 miliar (meningkat 46% dibandingkan periode sebelum Ramadhan) kemudian disusul oleh produk kategori petroleum seperti oli dan bahan bakar kendaraan dengan peningkatan yang tinggi sebesar 240%.

“Kategori-kategori yang mengalami peningkatan tersebut biasanya adalah yang memang berhubungan dengan kebiasaan di bulan Ramadhan atau Lebaran sebagai respon dari pengiklan untuk memanfaatkan peluang yang tercipta di market. Bahkan beberapa kategori produk seperti sirup atau sarung hanya fokus beriklan menjelang bulan Ramadhan hingga Lebaran sepanjang tahunnya.” ungkap Hellen Katherina, Executive Director Media Business, Nielsen Indonesia.

***

TENTANG NIELSEN AD INTEL

Informasi belanja iklan diambil dari data Ad Intel yang memonitor aktivitas periklanan Indonesia. Di tahun 2017, monitoring iklan mencakup 15 stasiun TV nasional, 99 surat kabar dan 120 majalah dan tabloid. Angka belanja iklan didasarkan pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, harga paket, dll.

TENTANG NIELSEN CONSUMER AND MEDIA VIEW

Survey CMV adalah survey sindikasi yang dilakukan Nielsen terhadap + 17,000 orang usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin). Informasi yang ada di dalamnya termasuk data-data demografi, psikografi, penggunaan media, sampai dengan penggunaan produk.

TENTANG NIELSEN RADIO CONSUMER VIEW

Survey Radio Consumer View adalah survey sindikasi yang dilakukan Nielsen terhadap + 8,400 orang usia 10 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin). Survey ini menyediakan informasi terkait kebiasaan, preferensi dan penggunaan produk dari pendengar radio.

TENTANG NIELSEN TV AUDIENCE MEASUREMENT

Informasi kepemirsaan TV diambil dari data TV Audience Measurement yang mencakup monitoring kepemirsaan atas semua televisi nasional terhadap lebih dari 8,000 orang berusia 5 tahun ke atas. Data kepemirsaan diperoleh dari people meter di TV rumah tangga yang menjadi panel Nielsen di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin).

TENTANG NIELSEN

Nielsen Holdings plc (NYSE: NLSN) adalah perusahaan riset pengukuran dan analisis data global yang memberikan gambaran paling lengkap dan terpercaya yang tersedia bagi konsumen dan pasar di seluruh dunia. Pendekatan kami menyatukan data milik Nielsen dengan sumber data lain untuk membantu klien di seluruh dunia memahami apa yang terjadi sekarang, apa yang terjadi selanjutnya, dan cara terbaik untuk merespon berdasarkan pengetahuan ini. Selama lebih dari 90 tahun, Nielsen telah menyediakan data dan analisis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang terpercaya dan inovasi, serta secara berkelanjutan terus mengembangkan cara baru untuk menjawab pertanyaan paling penting yang dihadapi industry barang konsumsi, media, periklanan, ritel, dan industri barang cepat habis.

Nielsen, sebuah perusahaan S&P 500, beroperasi di lebih dari 100 negara meliputi lebih dari 90 persen populasi dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nielsen.com