Insight

Berpacu Dengan COVID-19: Melihat Lebih Dalam Bagaimana Konsumen Indonesia Bereaksi Terhadap Sang Virus
Artikel

Berpacu Dengan COVID-19: Melihat Lebih Dalam Bagaimana Konsumen Indonesia Bereaksi Terhadap Sang Virus

Pandemi virus corona (COVID-19) yang telah melanda seluruh dunia telah menyebabkan perubahan signifikan dalam kehidupan manusia. Investigasi Nielsen telah mengidentifikasi enam ambang batas yang melacak tren perilaku konsumen di seluruh dunia negara-negara telah dipengaruhi oleh virus tersebut. Walaupun Indonesia adalah salah satu negara terakhir di Asia yang mengkonfirmasi infeksi COVID-19 pada awal Maret, sejak saat itu kasus-kasus telah meningkat, dan Indonesia telah bergabung dengan banyak pasar lain di seluruh dunia pada level 5, “Restricted Living”. Karena kekhawatiran terhadap virus dan ”restricted living”, orang Indonesia kini melakukan adaptasi atas perilaku konsumsi mereka, termasuk dalam mengkonsumsi media. 

Dalam sebuah studi Nielsen baru-baru ini, 82% responden – kebanyakan dari Kelas Atas – mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang COVID-19 pada awal Februari 2020. Setelah pengumuman Presiden Joko Widodo tentang kasus COVID-19 pertama pada 2 Maret, 61% responden mencari berita terkait COVID-19 hingga beberapa kali setiap hari melalui berbagai saluran media.

Studi ini menemukan bahwa media sosial (80%), berita TV (77%) dan mesin pencari online (56%) adalah sumber informasi yang paling banyak diakses konsumen untuk mendapatkan berita terkini tentang COVID-19.

Perilaku-Konsumen-Mencari-Informasi-Terkait-COVID-19

Mengikuti kebijakan tinggal di rumah di Indonesia untuk mencegah penyebaran COVID-19, 30% responden berencana untuk berbelanja online lebih sering. Ini juga mempengaruhi menonton TV, dimana rating TV meningkat tajam dari 2,6% pada 8 Maret menjadi 13,6% pada 15 Maret. Peningkatan tertinggi terlihat pada pemirsa yang berusia lebih muda, dengan angka rating meningkat 23% untuk anak usia 5-9 tahun dan meningkat 22% untuk 15-19 tahun.

ampak-COVID-19-Terhadap-TV-Rating

Di negara-negara lain di Asia, kita telah melihat kebangkitan “ekonomi rumah” ketika konsumen tinggal di rumah karena kekhawatiran terhadap virus dan mengalihkan pengeluaran mereka untuk memenuhi gaya hidup baru ini. Di Indonesia, 50% konsumen telah mengurangi hiburan di luar rumah, dan 46% mengurangi makan di luar. Di sisi lain, 49% konsumen lebih sering memasak di rumah, dan ini telah mendorong pertumbuhan penjualan bahan baku dan produk segar, seperti telur (+26), daging (+ 19%), daging unggas (+ 25%) dan buah dan sayuran (+ 8%).

Konsumen-Cenderung-Untuk-Memasak-Di-Rumah

Untuk mempersiapkan langkah-langkah tinggal di rumah, konsumen di seluruh dunia telah membeli produk serupa sebagai bagian dari “persiapan dapur” mereka. Di Indonesia, banyak pembeli beralih ke gerai-gerai Ritel Modern untuk sebagian besar produk persiapan dapur, meskipun ada beberapa perbedaan di antara segmen konsumen dan wilayah. Pada skala nasional, konsumen Kelas Atas lebih banyak berbelanja di Hypermarket / Supermarket daripada konsumen lain. Sementara itu, tren di Jakarta sekitarnya berbeda, di mana tidak hanya konsumen Kelas Atas, tetapi juga konsumen Kelas Menengah dan Bawah lebih banyak berbelanja di Hypermarket / Supermarket.

Selain persediaan barang dapur, kesehatan dan kebersihan telah menjadi perhatian utama bagi konsumen di tengah pandemi saat ini. Studi awal dari Cina menunjukkan bahwa kesehatan kemungkinan akan terus menjadi perhatian utama karena tingkat infeksi melambat dan Indonesia memasuki normal baru. Sebanyak 44% responden menyatakan bahwa mereka lebih sering mengkonsumsi produk kesehatan, dan 37% mengaku lebih sering mengonsumsi minuman vitamin. Pemain industri untuk vitamin dan farmasi memanfaatkan kesempatan ini dan meningkatkan anggaran iklan mereka di TV. Belanja iklan vitamin meningkat 14% dan mencapai lebih dari Rp90 Miliar, sementara belanja iklan obat batuk meningkat 22%, mencapai lebih dari Rp30 Miliar.

Untuk peritel, situasi saat ini dapat menciptakan peluang untuk mempertahankan bisnis mereka dan pada saat yang sama membantu menyediakan apa yang dibutuhkan konsumen selama masa tinggal di rumah. Supermarket dan hypermarket memiliki peluang terutama dari konsumen SES Atas dan Tengah, yang mungkin mencari stok yang cukup dan lebih banyak alternatif produk tanpa adanya barang yang biasanya mereka sukai. Sementara itu, Minimarket adalah pilihan yang disukai di berbagai SES karena jaraknya yang dekat, yang membantu konsumen menghindari kerumunan ramai dan menggunakan transportasi umum.

Hal terpenting yang perlu dilakukan oleh peritel adalah memantau alokasi stok mereka karena ada risiko pada jalur distribusi. Layanan pengiriman dengan metode pemesanan sederhana dan akses mudah ke konsumen, serta memanfaatkan komunikasi omni channel, termasuk TV, internet, media sosial, aplikasi pesan dan “chat”, akan membantu bisnis untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Read in English

Metodologi

Sumber: https://www.nielsen.com/us/en/insights/article/2020/covid-19-tracking-the-impact-on-fmcg-and-retail/ ,Nielsen Consumer Study (7-10 Mar 2020), Nielsen Scantrack (Jan-Mar 2020 vs Jan-Mar 2019), Nielsen Home Panel (Jan-Mar 2020 vs Jan-Mar 2019), Nielsen TV Audience Measurement (1-18 Mar 2020), Nielsen Ad Intelligence (1-18 Mar 2020)