Press Room

Pertumbuhan Belanja Iklan Menunjukkan Arah Positif

{“order”:3,”name”:”pubdate”,”attributes”:{“hidePublishDate”:”true”,”jcr:mixinTypes”:”[cq:LiveRelationship]”,”sling:resourceType”:”nielsenglobal/components/content/publishdate”},”children”:null}

Pesan untuk Jurnalis dan Editor:

  • Nielsen sangat menyarankan jurnalis dan editor untuk mencantumkan metodologi riset Nielsen dalam berita, bilamana merujuk data Nielsen sebagai sumber informasi.

  • Untuk menghindari ketidak-­‐tepatan dalam menggunakan referensi data Nielsen, silahkan menghubungi  kontak  Nielsen  diatas  untuk  klarifikasi informasi.

  • Nielsen memiliki hak jawab untuk ketidak-­‐tepatan penggunaan data Nielsen dalam pemberitaan.

PERTUMBUHAN BELANJA IKLAN MENUNJUKKAN ARAH POSITIF

Produk Layanan Internet Mendorong Pertumbuhan Iklan

Penetrasi Internet Berdampak Pada Perilaku Pengguna Perangkat Smartphone

Jakarta, 18 Agustus 2016 – Pertumbuhan belanja iklan tahun ini memperlihatkan pergerakan yang positif dengan nilai pertumbuhan sebesar 18% di semester pertama 2016 ini. Secara keseluruhan, sepanjang semester pertama 2016 total belanja iklan meningkat menjadi 67,7 Triliun. Demikian menurut hasil temuan Nielsen Advertising Information Services yang dirilis hari ini oleh Nielsen Indonesia.

Kontributor utama untuk pertumbuhan belanja iklan masih dari media TV sebesar  51,9 Triliun, meningkat 26% dari periode yang sama di tahun 2015 lalu.

“Belanja iklan di semester pertama tahun ini menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan belanja iklan di media televisi, sementara itu pertumbuhan belanja iklan di media cetak juga terlihat cukup stabil.” kata Hellen Katherina, Executive Director, Head of Media Business, Nielsen Indonesia. “Ini merupakan indikasi yang baik, dimana terlihat para pengiklan perlahan-lahan mulai bergairah kembali. Bila stabilitas ekonomi meningkat, bisa jadi tren pertumbuhan belanja iklan di semester kedua juga akan mengalami peningkatan.” lanjut Hellen.

Sepanjang Januari-Juni 2016, sepuluh kategori produk dengan belanja iklan tertinggi juga meraih pertumbuhan yang positif. Kategori Pemerintahan dan Organisasi Politik masih menjadi pengiklan terbesar dengan nilai belanja iklan Rp3,8 Triliun dan tumbuh 40 persen, disusul oleh Rokok Kretek dengan total belanja iklan Rp 3,5 Triliun dan pertumbuhan sebesar 53%. Pengiklan terbesar ketiga adalah Perangkat dan Layanan Komunikasi dengan total belanja iklan sebesar Rp2,5 Triliun dan mengalami pertumbuhan 27% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Kategori Perawatan Rambut menghabiskan belanja iklan sebesar  Rp2,5 Triliun dengan pertumbuhan 20%. Kopi dan Teh tumbuh 24% menjadi Rp2,3 Triliun dan Perawatan Wajah tumbuh 31% menjadi Rp2,2 Triliun.Kategori Layanan Online berada di urutan ke tujuh menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi yaitu sebesar 66% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 dengan nilai belanja iklan menjadi Rp2,2 Triliun.

Sementara itu merek-merek dengan belanja iklan tertinggi sepanjang Januari-Juni 2016 adalah Dunhilll (rokok kretek) dengan nilai belanja iklan mencapai Rp488,9 Miliar, disusul oleh Indomie dengan total belanja iklan sebesar Rp451 Miliar. Bulan Ramadhan menghantarkan sirup Marjan menjadi pengiklan terbesar ketiga dengan total belanja iklan sebesar Rp366 Miliar. Berikutnya adalah Pemda Riau dan Traveloka dengan total belanja iklan masing-masing sebesar Rp334 Miliar dan R 326 Miliar. IndosatOoredo IM3 menjadi pengiklan terbesar lainnya dengan nilai sebesar Rp303 Miliar.

Persaingan Iklan dalam Industri Telekomunikasi

Sepanjang periode Januari-Juni 2016, untuk Industri Telekomunikasi saja total belanja iklan di media TV dan media cetak mencapai Rp2,5 Triliun. Jika dilihat trennya, iklan produk kartu SIM card regular cenderung mengalami penurunan nilai belanja iklan dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2015, belanja iklan untuk produk SIM card mencapai 1,8 Triliun, sementara tahun sebelumnya mencapai 2,1 Triliun. Adapun belanja iklan SIM card untuk periode Januari-Juni 2016 mencapai Rp1 Triliun. Di sisi lain, iklan untuk produk telekomunikasi yang berkaitan dengan layanan internet terus meningkat. Hingga paruh tahun 2016  saja, nilai belanja iklan untuk produk internet sudah mencapai 500 Milyar, sementara di sepanjang tahun 2015 mencapai 600 Milyar.

Dalam lima tahun terakhir pesan yang disampaikan oleh iklan-iklan produk telekomunikasi mengalami perubahan dari yang semula berfokus pada fungsi dasar komunikasi seperti layanan telepon murah, sms gratis, atau nada sambung pribadi; menjadi  produk yang lebih menawarkan layanan peningkatan konektivitas seperti bundling handphone dengan paket internet/data, layanan 3G/4G LTE Network ataupun internet cepat dan unlimited.

Persaingan di antara penyedia jasa layanan telekomunikasi masih didominasi oleh Telkomsel dengan total belanja iklan sebesar Rp681 Miliar, disusul oleh Indosat Ooredoo dan XL Axiata yang masing-masing menghabiskan total belanja iklan sebesar Rp340 Miliar dan Rp276 Miliar pada semester pertama 2016 ini. Pemain lainnya adalah Smartfen dengan total belanja iklan sebesar Rp147 Miliar, Hutchison sebesar Rp62 Miliar dan Internux (Bolt) sebesar Rp26 Miliar.

Walaupun mempunyai nilai belanja iklan yang cukup bervariasi di antara penyedia jasa layanan telekomunikasi, namun ketiga pemain utama tersebut mengalokasikan proporsi anggaran iklan yang serupa untuk produk-produk berbasis internet yang mereka miliki. Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata masing-masing menggunakan sekitar 40% dari anggaran iklan di TV & print untuk komunikasi yang berkaitan dengan jaringan 4G LTE atau produk paket-paket internetnya.

Pengguna Smartphone Meningkat Seiring dengan Meningkatnya Kualitas Layanan Internet

Di Indonesia, konsumen yang mengakses internet dari perangkat mobile terus mengalami peningkatan dari yang hanya 14% di tahun 2012 kini mencapai 36% di tahun 2016. Untuk memenuhi kebutuhan akan akses internet, konsumen juga beralih dari perangkat feature phone ke smartphone. Angka yang cukup signifikan terlihat dari kepemilikan smartphone yang meningkat tajam dari hanya 12% di tahun 2013, kini menjadi 35% di tahun 2016, sebaliknya pengguna feature phone menurun dari 67% di tahun 2013 hanya menjadi 38% di tahun 2016.

“Kebutuhan konsumen untuk selalu terhubung satu sama lain dan untuk senantiasa mendapatkan informasi terkini semakin meningkat.” ujar Hellen. “Ini terlihat dari alasan membeli atau memilih telepon genggam yang terungkap dalam survei Nielsen Consumer Media View, dimana 20 persen konsumen menyatakan Chatting/Mengobrol adalah alasan utama mereka, dan ini meningkat 394% dalam tiga tahun terakhir.”

Alasan lain dalam membeli atau memilih telepon genggam yang juga meningkat dalam tiga tahun terakhir diantaranya adalah untuk Mengikuti Tren (+164%), Mendengarkan Musik (+76%), dan Mendapatkan Informasi Terbaru (+72%).

Tentang Advertising Information Services Nielsen

Informasi belanja iklan dikumpulkan dari data Advertising Information Services yang memonitor aktivitas periklanan Indonesia. Mencakup 15 stasiun TV, 99 surat kabar dan 123 majalah dan tabloid. Semua angka didasarkan pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, promo, dll.

Tentang Nielsen Consumer Media View

Consumer Media View adalah survey yang dilakukan Nielsen secara rutin di 11 kota di Indonesia. Pertanyaan survey mencakup kebiasaan dalam mengkonsumsi media dan mengkonsumsi berbagai produk. 

Tentang Nielsen

Nielsen Holdings N.V. (NYSE:NLSN) adalah sebuah perusahaan informasi dan pengukuran global yang menjadi pemimpin pasar dalam informasi pemasaran dan konsumen, televisi dan pengukuran media lainnya, online, pengukuran mobile, pameran perdagangan dan properti terkait. Nielsen beroperasi di sekitar 100 negara, dengan kantor pusat di New York, USA dan Diemen, Belanda. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nielsen.com.